Dandelion
Perasaan macam apa ini,sungguh tidak bisa terdefinisikan.
Seperti berjalan di autumn bersama dedaunan kering,panas namun teramat dingin, dingin namun tidak turun hujan. Sungguh,kusebut musim apa ini? Sebelumnya dalam mimpi pun belum pernah hadir.
Mau ku sebut mengagumkan,namun rasanya menyakitkan. Ketika kulihat bunga dandelion tumbuh cantik di antara puing-puing daun gugur ini,rasanya ingin ku tiup. Namun,meniup bunga dandelion saja rasanya tak mampu. Ngomong-ngomong tentang dandelion,aku sedikit iri dengan bungan dandelion ini,dia tidak secantik mawar ketika mekar,tidak seceria matahari yang bersinar,tidak serapuh melati yang selalu tampak ingin di cintai,namun dandelion memiliki jati dirinya sendiri.
Dia putih,lembut,dia tumbuh menyembunyikan diri di balik ilalang yang menguning. Tapi diapun rapuh juga,sebagai makhluk indah ciptaan-Nya,dia pun tidak mampu melawan ketentuan takdir ketika angin harus datang dan memporak porandakan seluruh kepak-kepak serabut kelopaknya dan dia akan berubah menjadi satu batang yang berdiri tegak meskipun sendirian. Aku memandangi sisa batang itu sendirian berdiri tanpa kekasihnya (si kelopan bunga dandelion itu). Lalu aku berjalan kembali menyusuri jalanan dengan dedaunan kering ini. Sejenak melupakan cerita bunga dandelion tadi,perasaan tidak karuanku tumbuh lagi,mengagumkan namun menyakitkan. Munculah pertanyaan di kepalaku.
Apakah akhirnya aku sama dengan bunga dandelion itu? Kehilangan kekasihnya saat angin menyerbu?
sungguh aku tak kuasa memikirkanya. Ah,itu hanya asumsiku saja. Yakin saja,pada dasarnya kelopak bunga dandelion itu hanya mengikuti arus angin,bukan sengaja meninggalkan batang bunganya. Lalu,dia akan jatuh dan menumbuhkan tunas baru untuk menemani sang batang bunga dandelion itu. Memang,kadang cara tuhan memberi ending pada skenarionya dengan cara yang tidak kita duga dan mengejutkan.
Komentar
Posting Komentar