Dampak dari "komentar"

Hari ini aku melihat postingan dengan nada lemah, aroma pahit dan nuansa suram pada berandaku, aku tak pernah berfikir akan melemparkan komentar padanya, tetapi dayaku tertarik pada suram yang ia percikan di laman itu hingga aku tak kuasa menahan jariku untuk menuliskan sebait motivasi padanya. Hanya itu. Lalu balasanya ia begitu berterima kasih padaku hingga ia memintaku untuk menjadi temannya. aku hanya berfikir, apa yang telah kulakukan sampai aku harus menerima kasih darinya? Hemm entahlah, tapi aku suka, aku bahagia dan ingin melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Lalu aku berfikir ketika kita mengeluarkan komentar atau pendapat kita pada sebuah postingan dengan kalimat kita yang "mungkin" agak sedikit berbobot dan mudah diterima. Lalu orang yang membacanya menyadari bahwa pendapat kita memang pantas untuk diterima.

Pada dasarnya, realita persangkaan yang terjadi memang demikian, tetapi asal kita tahu bahwa tindakan2 seperti ini (berkomentar) justru memperparah, yaitu hormon addict terhadap perilaku seperti ini (berkomentar) semakin menjadi. Jika saya nikmati maka semakin mencandu ria dalam otak saya. Itu bahaya.

Mengapa bahaya? Itu hanya sebait tulisan saja, apa yang dapat membahayakanmu?

Iya, bahaya. Karena dari pengaruh hormon addict ini, saya bisa terus melakukan tindakan berkomentar seperti itu, membalas komentar yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Walau mungkin pendapat atau komentar saya menyisakan sedikitnya dampak psikologis bagi sebagian orang yang kebetulan membaca komentar saya.

Tetapi, setelah meninggalkan halaman (tidak ada interaksi lagi), saya merasa hambar dan hampa dan ingin seperti melakukan hal yang sama berulang kali mendapat notification. Itulah dampak dari social media (yang memang dirancang juga seperti itu) bukan hanya di facebook, sosial media lain pun sama.

Saya ambil contoh dari pengalaman perfacebookan saya saja.

Saya sudah lama rasanya tak memakai facebook sejak SMA kurasa. Sejak itu saya benar2 fakum dari dunia perfacebookan, tak ada hampa karena memang sudah tak tertarik pada facebook. Tetapi beberapa minggu ini kegabutan itu mengacaukanku, rasa kacau itu memaksaku untuk membuat akun facebook untuk sekedar melihat2 dan sesekali kubuat tulisan disana. Tetapi seperti yg sudah saya bilang tadi, saya merasa terAddiction atas komentar2 itu, menjadi semakin menarik dayaku. Menjadi hambar ketika tak ada notification.

Ini apa, apakah ini candu?

Terlepas dari berdampak negatif atau positifnya pengaruh sosial media ini saya rasa orang2 pasti tahu apa dampaknya. Tetapi yang pasti saya merasa bahagia ketika saya mendapat suatu feedback atas komentar saya.

Itu semua karena adanya dopamin dalam otak kita. Pada dopamin yang bertanggung jawab untuk menyampaikan sinyal antara neuron atau sel-sel saraf pada otak.

Ya, dengan adanya salah satu fungsi dopamin yang mengatur perasaan senang dalam diri kita
Tentunya kita tahu bahwa ia bekerja sesuai fungsi yang ada bahwa membuat orang cenderung ingin melakukan kembali kegiatan yang menyenangkan tersebut. Kegiatan berkomentar yang tadi saya bicarakan.

Terlepas dari negatif atau positifnya dalam kegiatan berkomen-komen ria itu saya tidak begitu paham, jadi apa ada yang ingin menjelaskan ?

Komentar

Postingan Populer