AKUI SAJA
Mentari mengerahkan silaunya menerobos masuk melalui lorong jendelaku.
Ternyata sudah pagi ya?
kupikir masih larut dalam malam yang panjang, setelah beberapa jam ku habiskan waktuku menggali sebuah suara batin dalam tumpukan logika.
Tidak mudah ya, jiwaku lelah menggali sebuah suara batin yang tak kunjung ku temukan. Logikamu terlalu menumpuk tak seimbang.
Pikirku, jika kuhancurkan satu detik saja logikamu, apakah aku bisa menggenggam sedikitnya suara dasar dalam batinmu? Tapi bagaimana?
Saat beberapa pertanyaan kulontarkan padamu, sejenak kupikir rayuku berhasil menggapai suara batinmu, namun lagi-lagi logikamu berhasil kau tumbuhkan kembali, meruntuhkan segala kalimat-kalimat rapuh yang sejenak kau ucapkan.
Bukan aku ingin kau rapuh dan mengeluhkan hidupmu padaku. Aku hanya ingin menciptakan sebuah kehangatan pada dinginnya pandanganmu terhadap segala hal yang terjadi pada dirimu.
Karena aku berharap baik untukkmu, untuk hidupmu yang aku tau sebab keras kepalamu,
Seseorang yang bosan rapuh, menggenggam kerapuhan dan merubah seorang manusia menjadi yang berlagak tak berperasaan. Sungguh, itu tak baik. Ku harap kau mengerti. Atau akui saja..
Kepada manusia penuh logika.
Cobalah gunakan perasaanmu, sedikit saja.
Kau manusia. bukan hanya akal tetapi juga perasaan yang harus kau genggam bersamaan.
Kau membanggakan diri di hadapanku, kau bilang bahwa dirimu batu.
Apakah benar jika kau benar-benar tak gunakan rasa pada setiap pandanganmu? Sudahlah, akui saja.
Aku tau kau tak sebatu itu.
-,08:41
I like your writing..
BalasHapus