Menyembunyikan makna

Mataku memejam di pukul 1 menjelang subuh, bersamaan dengan hujan menyiram damai tetapi jiwaku menolak lelap, ada suara yang berlari menghampiriku mengajakku berdiskusi. Entah apa maksudnya, sedikit tertahan untuk bertanya, "ini apa?".

Kucoba pahami, analoginya seperti gambaran tentang persimpangan arah pada sebuah pilihan, lagi-lagi terlintas dalam pandangan alam bawah sadarku. Permukaan hitam manis namun begitu tajam, aku tak sekedar melihat tetapi aku merasakan, rasanya sakit sekali. Dadaku perih jika ku rasakan, seperti runyam yang tak ada tenang. Lajuku tak terarah, langkahku berdarah.
Langit menghitam kejam, dadaku sesak penuh desak.
Aku ingin lepas, pada jiwa yang kurasa tak pas.

Berdampingan dengan itu, aku melihat air. oh!
aku tidak tau tepatnya itu air atau pasir, ia halus bersih dan putih, seperti cermin luas berpasir dan berair. Ah, membingungkan jika kujelaskan, tetapi aku melihat putih yang suci, jiwaku tenang damai kurasa. Tak ada orang disana, aku sendiri. Namun, aku menikmatinya, langkahku pelan bersama butiran pasir lembut menyentuhku.
Aku tak ingin lepas, jika pada jiwa yang kurasa pas.

Ini apa? Membingungkan sekali, tiba-tiba saja alunan merdu jiwaku beranjak mengajakku berdiskusi.
Setelah beberapa lama aku tak merasakan apa-apa.
Setelah beberapa lama imajinasiku kehilangan sayapnya.

Sederhana saja, mungkin tak bermakna bagimu.
Mungkin bagiku juga tak bermakna untuk sementara, karena aku belum menemukan maknanya. Yang kutahu, ini adalah irama batinku pada sebuah gambaran tentang hitam dan putih.

Hitam dan putih, dua kalimat sederhana yang mengandung banyak makna.

Hitam dan putih, dua arah yang berdampingan namun tak sejalan.

Hitam dan putih, yang bersahabat namun berbeda pendapat.

Pada hujan malam ini, terima kasih sudah menemani.

Sunday,01:00.

Komentar

Postingan Populer