Senja.
Dulu kulewati senja tanpa menatap langit. Seberapa indahnya ketika sang piringan matahari meninggalkan cakrawala. Entah,aku belum begitu peduli. Rasanya hambar ketika senja ku tatap tanpa merasuk ke dalam jiwanya. Sebab itu,ketika senja datang,hanya rasa lelah yang kurasa,dan bukan sebuah keindahan.
Namun,beberapa waktu yang lalu hatiku tergoda untuk mencoba menatap langit dari jendela rumahku,tidak begitu jelas rasanya. Sampai aku tertarik untuk keluar menuju balkon rumah,seketika disambutlah aku dengan hamparan langit berwarna orange yang mencengangkan mataku,aku terhanyut di dalam keindahanya,seakan-akan aku menjadi ikut serta dalam keindahan senja itu,tak ingin lepas rasanya. Waktu berlalu begitu cepat. aku tak sadar, begitu kulihat,sang mentari sudah lelah mengibarkan sinarnya," aku ingin pergi beristirahat dulu,besok aku akan kembali lagi,ujarnya". Aku merasa sangat kehilangan,sang mentari pergi di tengah-tengah keindahan yang sedang ku nikmati itu."tak apa,katanya besok akan kembali",tersenyum ikhlas.
Sejak saat itu aku selalu menengok langit untuk menikmati senja. Sampai pada di titik aku terlalu tenggelam dalam suasana dan lupa bahwa senja itu sudah pasti akan hilang pada waktunya. Dengan bodohnya aku,ku cari senja kesana kemari,mengapa semuanya gelap,kemana sang mentari pergi,mengapa ia tak memberitahuku.
Aku lupa bahwa senjaku sudah hilang. Aku berlarut dalam kehampaan,sampai aku tak sadar ada bulan dan bintang dengan gemerlap cahayanya menenangkan,bagiku itu pengganti senjaku yang hilang,mereka datang menghampiriku,membujuku agar aku tetap tenang dan tersenyum. "Kau hanya ditinggalkan,bukan kehilangan" kata mereka begitu. :)
Aku|26/10/19
Komentar
Posting Komentar