Teman baik

Seseorang yang hidup di dalam sebuah gua yang jauh dari kota maupun desa bersama-sama dengan beberapa orang lainya membentuk sebuah keluarga,saling menebar tawa di dalam lingkaran kehangatan menceritakan kisah kasih dalam hidupnya masing-masing,sembari menikmati semerbak api unggunya itu lebih indah. dibandingkan seorang gadis yang hidup di sebuah rumah megah dengan dinding  yang melindunginya dari hujan dan panas,namun hanya seorang diri tergeletak tak berdaya di atas kasur mewahnya,menginginkan sebuah obrolan hangat dengan orang-orang yang ia anggap ada namun sebenarnya tak ada. Kosong. Iya,hidupnya kosong. Hatinya penuh rasa gelisah,menginginkan sebuah sapaan namun tak ada yang menyapa,bukan tidak ada sebenarnya. Namun,ada sepucuk rasa enggan dari dalam hatinya terhadap manusia-manusia yang hanya menginginkan untuk memilikinya saja, bukan ketulusan dari dalam hati yang ingin menjaganya. Disitulah letak ke(enggan)an dia pada manusia diluar sana. "Aku harus bangun" ucapnya,lalu melangkahkan kaki di atas teriknya mentari menebar senyum keterpaksaan. Berjalan mengamati  senyum  pada wajah-wajah itu,dan bertanya pada diri "apakah senyum itu asli? Atau hanya topeng agar terlihat baik-baik saja seperti yang kulakukan sekarang ini?,entahlah hanya mereka yg tau. Seperti aku,senyumku asli atau tidak itu hanya aku yang tau. Mereka hanya melihat senyum tanpa melirik sudut kesedihan dalam senyum itu,aku tak menuntut orang lain memahamiku,karena aku tau semua orang punya topengnya masing-masing" ucapnya. hatinya bergumam sepanjang kaki melangkah. Terdengar dari kejauhan seseorang memanggilnya.
"hah sudah saatnya memakai topengku lagi,semangat"  ucapnya dalam hati.
puas-puaskan saja tertawamu bersama teman-temanmu,jika sudah selesai pulanglah,dan sapa teman baikmu yang sesungguhnya, "Sepi".

                                                                 Aku|29/10/19

Komentar

Postingan Populer