Sikap duniawi
Seseorang bertanya padaku.
"Bagaimana menurutmu mengenai sang pendaki gunung?" Tanyanya.
"Pendaki gunung, well, itu keren dan aku iri denganya". Jawabku.
"Mengapa iri, apakah kau pun suka naik gunung, mengapa suka?" Tanyanya lagi dengan penuh rasa ingin tau.
"Aku iri denganya, ingin seperti mereka, jika suatu saat nanti ada kesempatan buatku untuk mendaki gunung aku pasti sangat senang. Dan mengapa aku suka untuk naik gunung, karena selain memang kita bisa melihat alam tuhan yang begitu indah, aku pun bisa mengambil pelajaran disetiap langkahku yang kupijakkan di tanah itu, ada banyak sekali pelajaran dan kalimat tersembunyi yang bisa kudapatkan dari naik gunung tersebut.
Salah satunya adalah kalimat tersembunyi yang kudapati saat ini dalam fikirku yaitu dari mendaki gunung aku menjadi tau satu hal, bahwa ternyata kita bisa sampai menuju puncak tanpa harus menjatuhkan". Jawabku lagi.
Temanku tersenyum,aku mengajaknya berdiskusi kembali sembari memandang laut, yang hamparannya begitu luas, mungkin aku tak sampai menemukan batasnya, kukira setelah laut akan langsung menjadi air terjun, tetapi aku salah, ternyata di sudut-sudut laut lainnya pun adalah sebuah pantai, mungkin di sudut sana ada seseorang yang berfikir pula bahwa pantaiku yang kududuki ini adalah sebuah air terjun, itu semua karena memang tak bisa melihat sudut lautan ini. "Huh begitu luas ya lautan ini, semuanya sama rata, tidak ada yang tinggi atau pun rendah" gumamku yang begitu terpesona akan adilnya lautan ini.
Namun, jujur saja aku tak begitu suka dengan laut, aku hanya senang memandanginya saja, jika seseorang menyuruhku untuk menyelam kedasar laut, mungkin akan dengan lantang aku mengatakan tidak.
Karena memang laut itu indah, hamparanya begitu adil, mungkin laut juga menjadi salah satu definisi dari sebuah keindahan di dunia. Tetapi aku tak tau, ada apa dan bagaimana keadaan di dasar laut itu, mungkin saja ada hiu besar yang sedang kelaparan, atau makhluk seram lainnya. Memikirkannya saja tubuhku merinding.
Jadi, laut memang berbeda dengan gunung, jauh sekali.
Ketika laut terlihat begitu adil hamparannya, kita pun mendapatkannya dengan begitu mudah, namun laut menyembunyikan ketakutan-ketakutan didalamnya.
*Untuk sang pecinta laut, jangan salah paham. Aku sedang tidak memperburuk tanggapan tentang laut. Laut memang indah, aku tau. Semua orang pun tau. Aku hanya sedang menggambarkan laut dari sisi yang paling gelap.
Sedangkan gunung, kau tau sendiri bahwa satu langkah kaki pertama menginjak tanahnya pun sudah tau bahwa itu akan memicu tantangan besar. Setiap jengkal langkah mempunyai resiko. hujan, panas, bahkan badai yang tiba-tiba datang untuk menggoyahkan langkahmu. kau pun takkan tau akan sampai pada siang atau malam, bahkan mungkin akan sampai esok. Namun, bukan sang pendaki jika menyerah di tengah jalan, kau percaya bahwa setelah kesulitan ini, kau akan disuguhkan definisi indah yang sebenar-benarnya.
Satu hal yang kutau adalah
jika lautan menyembunyikan ketakutan,
maka gunung menyembunyikan keindahan.
Jika laut memberi definisi "kebohongan",
Maka gunung memberi definisi "apa adanya".
-,08:31
hai, irnasionalisme..
BalasHapusHai, thanks for reading my blog. ^-^
Hapus